EDISI 232/Mei 2018

PESAN GEMBALA

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

Shalom Saudara yang dikasihi Tuhan,
       Kita masih di masa-masa Paskah. Paskah berbicara tentang kasih, kuasa, mujizat, kemenangan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri bagi kita semua.
 “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (1 Korintus 15:3-4).
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Kita harus mengerti, Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa adalah maut, atau kematian! Apa itu kematian? Kematian itu ada 3 macam, yaitu :

1. Mati secara rohani

Kemuliaan Allah atau Roh Allah meninggalkan manusia

2. Mati secara jasmani

Roh manusia pisah dari tubuhnya

3. Mati kekal selama-lamanya

Tempatnya di Neraka!

Apa yang Alkitab katakan tentang Neraka?

Jangan sampai masuk neraka! Biarlah setiap kita masuk Sorga. Untuk itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan kita semua.

CARA YESUS MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA
Alkitab katakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21). Tadi dikatakan, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, upah dosa adalah maut, mati! Tetapi Yesus yang tidak mengenal dosa telah dijadikan dosa oleh karena kita semua!” Artinya Tuhan Yesus harus mati menggantikan kita. Kalau kita lihat cara mati daripada Tuhan Yesus, itu adalah cara mati yang sangat-sangat tidak manusiawi!

PROSES KEMATIAN TUHAN YESUS
Proses awal daripada penyaliban itu adalah jubah Tuhan Yesus harus dibuka, Dia ditalikan pada sebuah tonggak dengan posisi demikian. Di kanan kiri-Nya ada 2 algojo yang memegang cambuk yang ujungnya terbuat dari potongan tulang dan potongan besi. Setiap kali cambuk itu dihujamkan pada tubuh Tuhan Yesus, itu akan menimbulkan luka yang dalam. Sakitnya luar biasa! Darah bercucuran... darah bercucuran... Sakitnya luar biasa!
Setelah itu kepala-Nya diberi mahkota duri, kembali sakitnya luar biasa! Darah bercucuran... Belum selesai sampai disitu, tangan-Nya dipaku, kaki-Nya dipaku! Tuhan Yesus digantung di atas kayu salib!
Pada saat itu Tuhan Yesus menderita secara lahir maupun batin. Secara lahir Dia merasakan sesak yang luar biasa, secara batin Dia melihat semua orang menghujat Dia, orang-orang yang lalu lalang menghujat Dia, orang Farisi, imam kepala, tua-tua bahkan salah satu penjahat di sebelah-Nya menghujat Tuhan Yesus! Tuhan Yesus benar-benar mengalami penderitaan secara lahir maupun batin. Akhirnya Tuhan Yesus mati, darah bercucuran, Dia mati bagi kita semua.
Mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian? Mengapa tidak dengan cara yang mudah, dipenggal kepala-Nya, selesai!
Mengapa Dia harus mengalami penderitaan seperti ini? Darah bercucuran... Darah bercucuran... Alkitab katakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa!” (Ibrani 9:22b). Untuk mengampuni dosa Saudara dan kita semua, Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian.
Apa lagi yang Alkitab katakan dengan cara mati Tuhan Yesus yang seperti itu? (Yesaya 53:4-5)

 

PELAJARAN DARI PROSES KEMATIAN TUHAN YESUS
Saudara, Tuhan Yesus mengasihi kita. Justru dalam proses kematiannya. Tuhan Yesus banyak mengajar kepada kita hal-hal yang mungkin selama ini tidak terlalu kita pikirkan tetapi Tuhan Yesus justru memberikan banyak pelajaran-pelajaran, yaitu :

1. Hal Berdoa

a.Jadilah Kehendak Tuhan, Bukan Kehendak Kita

Pada waktu Tuhan Yesus ada di Taman Getsemani ditemani oleh Yohanes, Yakobus dan Petrus, secara manusia Tuhan Yesus merasa sangat takut, sebab Dia tahu apa yang akan Dia hadapi.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita doa yang dikehendaki oleh kita (manusia). Tuhan sendiri berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini (cawan penderitaan ini) lalu daripada-Ku,…” Kehendak Tuhan Yesus itu menggambarkan kehendak kita. Namun itu belum ‘titik’ masih ‘koma’ sebab Tuhan Yesus kemudian berkata, “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”  (Matius 26:39).
Saudara, kita diajarkan oleh Tuhan Yesus bahwa kita bisa meminta apa saja kepada Tuhan. Saudara boleh menawar kepada Tuhan, tapi sekali lagi kita jangan memaksakan kehendak kita tetapi biarlah kehendak Bapa yang jadi. Itulah yang terbaik, namun memang itu tidak mudah.
Ketika Tuhan Yesus berdoa seperti itu, ternyata Bapa tidak menjawab dan Tuhan Yesus tahu bahwa Dia harus merubah doa-Nya yaitu doa yang menjadi kehendak Bapa.
Jadi Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini (cawan penderitaan ini) tidak mungkin lalu daripadaku kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu.” Ini adalah doa yang menjadi kehendak Bapa.
Saudara, kadang-kadang Tuhan izinkan masalah-masalah yang berat itu terjadi dalam hidup kita dan kita berkata, “Tuhan... angkat ini! Tuhan.... angkat ini!” Bagi Tuhan untuk melepaskan itu mudah, tetapi kadang-kadang Tuhan izinkan masalah itu terjadi dalam hidup kita dan itu tidak diangkat. Tetapi seperti yang terjadi pada Tuhan Yesus, Dia dikuatkan oleh malaikat Tuhan demikian pun kita akan dikuatkan oleh malaikat Tuhan..
Rasul Paulus menuliskan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Memang Firman Tuhan berkata bahwa pencobaan-pencobaan yang datang kepadamu itu adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak akan melebihi kekuatan manusia. Tuhan itu setia, Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada saat kita dicobai, Dia memberikan jalan keluar sehingga kita bisa menanggungnya. (1 Korintus 10:13).

b. Berjaga-jaga Dengan Berdoa

Dia berkata kepada murid-murid-Nya pada waktu tidur, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga dengan Aku, satu jam saja. Berjaga-jagalah dalam doamu supaya kamu tidak jatuh dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:40-41) Yang harus kita lakukan adalah berjaga-jaga dalam doa kita. Kalau Saudara tidak melakukan itu, maka Saudara akan jatuh. 

2. Kasihilah Musuhmu

Pada waktu Tuhan Yesus ditangkap, Dia dihadapkan kepada Imam Kayafas. Disitu Tuhan Yesus ditampar, dipukul, diludahi, tetapi Tuhan Yesus tidak membalas. Dia benar-benar mempraktekkan apa yang diajarkan kepada kita “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintakan berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu; kalau ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu; kalau ada orang yang memaksa Saudara untuk meminta bajumu, berikan juga jubahmu. Kalau ada orang yang memaksa Saudara untuk berjalan 1 mil, berjalanlah bersama dia 2 mil.” Yang penting Saudara lakukan semua itu.
Kemudian Tuhan Yesus berkata, “…jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka....” (Lukas 6:27-29, 32).
Ini pelajaran yang Tuhan Yesus berikan yaitu kasihilah musuhmu!.

3. Jangan Membela Diri Sebab Pembelaan Datang Dari Tuhan

Pada waktu di hadapan Pilatus, orang Farisi dan Imam-imam kepala melontarkan tuduhan-tuduhan palsu yang tidak pernah Tuhan Yesus lakukan. Tuhan Yesus dituduh habis-habisan! Tuhan Yesus hanya diam saja.
Sampai akhirnya Pilatus heran, dia berkata, “Mengapa kamu tidak menjawab tuduhan mereka? Jika memang benar, kamu jawab!” Respon Tuhan Yesus adalah hanya diam saja.

4. Tuhan Yesus Menebus Kita dari Dosa dan Akibatnya

Tuhan Yesus diberi mahkota duri dan digantung di atas kayu salib. Mengapa Tuhan Yesus harus digantung di kayu salib? Mengapa tidak dengan cara yang lain?
Kalau Saudara membaca Kejadian 3:17-19 disitu dikatakan semak duri dan rumput  duri tumbuh akibat dosa. Duri itu adalah simbol dari segala sesuatu yang membuat kita menderita. Duri dari suatu bangsa itu berbicara tentang kemiskinan, pembunuhan, prostitusi, narkoba, dsb dan ini semua akibat dosa. Tuhan Yesus diberi mahkota duri untuk menebus akibat dosa kita semua. 
Selanjutnya Tuhan Yesus digantung di atas kayu salib. Kalau Saudara membaca dari Galatia 3:13b, disitu dikatakan, “…sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’” Orang yang digantung di atas kayu salib itu dikutuk karena dosa!
Jadi Tuhan Yesus itu diberi mahkota duri dan digantung di atas kayu salib, berarti Tuhan Yesus secara lengkap dan sempurna menebus kita baik dari dosa maupun akibat dosa.

5. Jangan Sampai Berhutang Darah

Saudara, pada waktu Tuhan Yesus diadili oleh Pilatus, orang-orang berkata “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ketika Pilatus bertanya, “Apa kesalahannya?” Orang banyak tidak menjawab tetapi malah berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”
Setelah Pilatus tidak bisa berkata apa-apa, dia akhirnya mengambil baskom berisi air, dia cuci tanganya dan berkata, “Aku tidak bertanggung jawab terhadap darah orang ini, dan itu harus ditanggungkan atas kamu.” Jawab orang Yahudi pada waktu itu, “Biarlah darahnya ditanggungkan atas kamu dan anak-anak kami!”
Saudara, mungkin mereka tidak tahu atau lupa bahwa menanggung darah orang lain itu sangat-sangat berbahaya! Amsal 28:17 dikatakan, “Orang yang menanggung darah orang lain akan lari sampai ke liang kubur. Janganlah engkau menahannya!”
Ketika Kain membunuh Habel darahnya tertanggungkan atas Kain, dia tidak dibunuh, dia dikutuk Tuhan. Kain lari sebagai pelarian, pengembara, terlunta-lunta hidupnya, tanah tidak memberikan hasil sepenuhnya. Itu yang dialami oleh Kain.
Orang-orang Yahudi saat itu tidak tahu apa yang dikatakannya. Apa yang mereka alami setelah itu benar-benar terjadi. Mereka dikejar-kejar ada upaya genosida besar-besaran terhadap orang Yahudi. Mereka dicerai-beraikan! Melalui Perang Salib (Spanish Inquisition) sampai terakhir yang paling dahsyat yaitu peristiwa Holocaust oleh Nazi – Jerman dimana sekitar 6 juta Orang Yahudi yang meninggal!
Saudara yang dikasihi Tuhan. Tuhan ingatkan kita, hati-hati!!! Jangan sampai kita berhutang darah. Mungkin Saudara berkata, “Saya tidak membunuh!” Kita memang tidak membunuh langsung, tetapi Saudara mungkin menyuruh orang. Kadang-kadang dengan cara halus, itu semua tanggung jawab kita. Ini suatu pelajaran yang Tuhan berikan kepada kita: Jangan sampai hutang darah sama orang lain!

6. Jangan Tinggal Dalam Dosa, Bertobatlah!

Ketika Tuhan Yesus di atas kayu salib, antara jam 12 - jam 3 siang, tiba-tiba di Golgota gelap. Tuhan Yesus  menjadi gelisah. Kemudian Tuhan Yesus berkata, “Eli, Eli, lama sabakhtani? Bapa-Ku, Bapa-Ku, kenapa Engkau meninggalkan Aku? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  (Matius 27:46).
Puncak penderitaan Tuhan Yesus pada waktu itu adalah pada saat ditinggalkan Bapa. Dia harus terpisah dari Bapa karena untuk menanggung dosa-dosa kita.
Pelajaran yang bisa kita ambil adalah betapa kasihnya Dia kepada kita semua. Dia minta kita mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita dan mengasihi sesama kita manusia seperti mengasihi diri sendiri itulah yang Tuhan mau.

TUHAN YESUS BANGKIT
Saudara, apa yang Alkitab katakan kalau sampai Tuhan Yesus tidak bangkit? (1 Korintus 15:17-19)

Puji Tuhan, Tuhan Yesus bangkit, sehingga pemberitaan firman Tuhan tidaklah sia-sia.

Tetapi puji Tuhan karena Tuhan Yesus bangkit, maka kepercayaan kita terhadap Dia tidak sia-sia. Kita akan hidup kekal bersama-sama dengan Tuhan Yesus selama-lamanya.

Tetapi puji Tuhan, sebab Tuhan Yesus bangkit! Orang-orang yang mati di dalam Tuhan akan dibangkitkan dan akan bersama-sama Tuhan Yesus selama-lamanya.

Saudara, Tuhan Yesus yang pegang hari esok, karena itu tidak ada alasan untuk kuatir apalagi berputus asa. Tuhan Yesus berkata kepada kita, “Jangan kamu kuatir! Jangan kamu kuatir apa yang akan kamu makan, apa yang akan kamu minum, apa yang akan kamu pakai. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, tetapi Bapamu yang di sorga tahu, kamu memerlukan semuanya itu. Karena itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,maka semuanya… semua-nya… apa yang Saudara butuhkan akan ditambahkan kepadamu!” Amin!

PERMULAAN YANG BARU
Memasuki tahun 2018 Tuhan memberikan tema “Tahun 2018 adalah Tahun Permulaan yang Baru.”
Permulaan yang baru berbicara tentang:

a. Yang Lama Sudah Berlalu dan Yang Baru Sudah Datang.

Yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, yang miskin diperkaya.

b. Menjadi Ciptaan yang Baru

Permulaan yang baru berbicara tentang menjadi ciptaan yang baru, artinya kita tidak boleh menggunakan sifat lama kita yaitu perbuaatan daging.
“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Gal 5:19-21)
Barangsiapa melakukan perbuatan daging secara terus menerus maka dia tidak mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah dan tempatnya di Neraka. Saudara jangan melakukan itu, tempat Saudara adalah sorga.

c. Membuat Sesuatu yang Baru

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19).
Pada waktu itu membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara itu mustahil dilakukan oleh manusia, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil Ini yang disebut dengan mujizat yang tidak lazim.


BANGKIT DAN MENJADI TERANG
Karena Tuhan Yesus bangkit, maka Dia berkata kepada Gereja-Nya,
“Bangkitlah, menjadi teranglah! Sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” (Yesaya 60:1)
Saudara, ayat ini berlaku untuk Pentakosta yang pertama yaitu di Yerusalem di kamar loteng. Ayat ini juga berlaku untuk Pentakosta yang kedua yang terjadi di Los Angeles – Azusa Street. Tetapi ayat ini juga berlaku untuk Pentakosta yang ketiga yang terjadi di Indonesia yang akan dimulai di SICC.
Gembala Pembina diingatkan tentang 29 tahun yang lalu para nabi di Amerika Serikat mendapatkan sesuatu bahwa saat ini gereja seperti ada di dalam goa, persis seperti Elia ada di dalam goa karena dikejar-kejar oleh Izebel, tetapi ini tidak akan berlangsung lama. Nanti gereja akan bangkit dengan ditandai akselerasi dalam penuaian jiwa dimana yang kita sebut dengan penuaian jiwa yang terbesar dan terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua.
Sekarang Tuhan berbicara kepada Gereja-Nya “Bangkitlah dan menjadi teranglah! Sebab kemuliaan Tuhan sudah datang dan terbit atasmu.”
Ini persis seperti apa yang Tuhan lakukan kepada Elia pada waktu dia berada di dalam goa di gunung Horeb. Tuhan berkata kepada Elia, “Elia, apa yang kamu lakukan di sini? Sekarang kamu keluar! keluar! Berdiri di atas gunung ini dan menghadap Tuhan.” Itu sama dengan apa yang dikatakan Tuhan hari-hari ini. “Bangkitlah...!!! Bangkitlah...!!! Menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.”
Karena Tuhan Yesus bangkit maka Dia memampukan Saudara untuk bangkit dan menjadi terang, sebab kemuliaan Tuhan turun dan kemuliaan Tuhan terbit atas kita. Amin. (Sh)


Pesan Gembala Pembina Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo

 

 

TUJUH PERKATAAN TERAKHIR
TUHAN YESUS


Sebagian besar orang akan mengingat kembali saat maut akan menjemput. Kepada keluarga dan temannya, mereka meninggalkan kata-kata terakhir.
Begitu pula Tuhan Yesus, Ia mengata-kan tujuh perkataan terakhir sebelum akhirnya Ia mati di kayu salib. Perkataan tersebut sering disebut sebagai Tujuh Perkataan Terakhir Yesus di kayu salib.
Ketujuh perkataan Yesus di kayu salib dikatakan dengan suara yang keras, sehingga terdengar oleh banyak orang terutama oleh murid-murid-Nya. Jika perkataan-perkataan itu tidak terdengar, maka kata-kata-Nya tersebut akan menjadi sia-sia, sebab setiap perkataan memiliki pengertian rohani yang dalam yang akan menuntun umat-Nya dalam kebenaran. Yesus adalah Firman, sehingga setiap perkataan adalah Firman, bahkan perkataan-Nya diakhir hidup-Nya.
Mari kita pelajari makna rohani dari tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib:

    1. BAPA AMPUNILAH MEREKA...

Yesus disalibkan untuk menunjukkan kasih dan ketaatan-Nya kepada Allah sehingga Ia dapat membuka jalan ke-selamatan bagi orang berdosa. Disepanjang perjalanan Yesus ke bukit Golgota, tempat dimana Yesus nanti disalibkan, orang-orang mengejek Yesus, “Ia menyelamatkan orang lain; biarlah Dia menyelamatkan diri-Nya sendiri!”
Para tentara juga mencemooh Dia. Bahkan satu dari dua penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mengejek Yesus. Tapi apa yang Yesus katakan kepada mereka semua?
Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga ke-dua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” ... (Luk 23:33-34).
Yesus berdoa bagi mereka yang telah mencemooh dan menyalibkan Dia, walaupun Ia tidak bersalah. Betapa besar kasih Yesus kepada umat manusia. Padahal, Yesus bisa saja dengan mudah turun dari salib dan membinasakan mereka semua. Tapi Yesus taat pada kehendak Bapa untuk me-nyelamatkan umat manusia. Oleh karena itu, sekalipun Ia harus megalami penderitaan dan malu, Ia tetap berdoa bagi orang-orang yang telah mencemooh-Nya dan memohon ampun kepada Bapa agar sekiranya mungkin mereka semua diselamatkan. 
Apa makna rohani dari pengampunan yang Yesus minta kepada Bapa bagi para pencemooh-Nya tersebut? Tuhan Yesus sedang mengajarkan tentang mengampuni. Tuhan Yesus sedang memberi contoh kepada kita umat-Nya bagaimana menanggapi para penganiaya yang tidak mengenal kebenaran.
Musuh kita, si Iblis, berasal dari kegelapan dan membenci terang sehingga ia menggunakan orang-orang yang tinggal dalam kegelapan untuk menyalibkan Yesus, terang sejati. Hari-hari ini, Iblis juga mengendalikan orang-orang yang tinggal dalam kegelapan dan membuat mereka menganiaya orang-orang yang berjalan dalam terang. Tapi melalui perkataan Tuhan Yesus di kayu salib yang pertama, Ia sedang mengatakan kepada kita apa kehendak Allah dan bagaimana seharusnya tingkah laku seorang Kristen untuk mengampuni mereka yang menganiaya kita. Yaitu memohon pengampunan bagi mereka agar mereka dapat menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka.

    2. HARI INI ENGKAU BERSAMA-SAMA DENGAN-KU DI FIRDAUS

Dua penjahat juga disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Seperti telah disebutkan, salah satu penjahat tersebut mengejek Yesus, namun penjahat yang satunya lagi bertobat dari dosa-dosanya, dan menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Penjahat itu berkata:
“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:42-43)
Karena pertobatannya itu, Tuhan Yesus berjanji kepada penjahat itu bahwa “hari ini engkau bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” Sorga sangatlah besar, bahkan melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Bahkan Tuhan Yesus berkata kepada kita dalam Yohanes 14:2, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Tuhan Yesus menyediakan banyak sekali tempat di sorga bagi mereka yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya. Namun, kita tidak diperbolehkan memilih tinggal di tempat sesuai pilihan kita sendiri. Allah yang adil akan memberikan kepada masing-masing kita tempat sesuai dengan apa yang sudah kita perbuat di dunia ini, seberapa kita telah mengikuti Tuhan, seberapa kita sudah bekerja bagi Allah, seberapa banyak harta yang telah kita kirim ke sorga, dan sebagainya (Mat 11:12; Why 22:12).
Setiap tempat di sorga sangat indah, namun tetap saja ada perbedaan-perbedaan.
“Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau  — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.” (II Kor 12:2)
Jadi di sorga terdapat tingkatan-tingkatan. Mereka yang tinggal di sorga akan dikelompok-kelompokan berdasarkan tingkatan rohani yang sama. Tingkatan di sorga ditentukan juga oleh seberapa jauh seseorang membuang hal-hal kedagingan (Yoh 3:6) dan seberapa jauh seseorang menjadi manusia roh seutuhnya.
Sebagai contoh adalah penjahat yang disebelah Tuhan Yesus. Ia akan masuk ke Firdaus, tapi tentunya pada tingkatan yang paling rendah. Sebab ia memang bertobat, tapi ia tidak sempat hidup menurut Firman Tuhan, melayani, memberitakan Injil, atau membuang dosa dan tabiat manusia lamanya. Oleh sebab itu ia akan tinggal atau dikumpulkan bersama orang-orang percaya lainnya yang menerima keselamatan secara memalukan (I Kor 3:15).
Oleh sebab itu, selagi ada kesempatan “berjuanglah melalui pintu yang sempit itu”, kumpulkanlah harta di sorga, layanilah Tuhan, bayar harga, melayani, beritakan Injil, sangkal diri, jauhi dosa, dan sebagainya. Itu semua akan menentukan upah dan tingkatan kita di sorga.

    3. PEREMPUAN, INILAH ANAKMU; MURIDKU INILAH IBUMU

Ada banyak wanita menyaksikan proses penyaliban Yesus, Maria, ibu Yesus; Salome, saudara Ibunya; dan Maria Magdalena. Kemudian ada juga Rasul Yohanes dan ia melihat dan mendengar dari atas kayu salib Tuhan Yesus mengatakan sesuatu kepada dia dan Maria, ibu Yesus. Dalam Yohanes 19:26-27, Yesus berkata kepada Maria yang sedang bersedih untuk menganggap Yohanes sebagai anaknya dan berkata kepada Yohanes untuk menjaga dia sebagai ibunya:
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu (perempuan, terjemahan aslinya), inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”
Mengapa Yesus memanggil Maria ‘perempuan’, bukan ‘ibu’? Kita harus mengerti bahwa Yesus adalah Allah sendiri. Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, jadi Yesus Kristus adalah Allah Tritunggal yaitu sang pencipta. Sebagaimana Allah, itu artinya Tuhan Yesus adalah yang awal dan yang akhir.
“Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” (Why 22:13)
Apa artinya? Dengan perkataan ‘perempuan’ tersebut, Tuhan Yesus hendak memberitahu kita umat-Nya bahwa Ia tidak berbapa dan juga tidak beribu, sebab Ia sudah ada sejak kekekalan, dan akan tetap ada hingga kekekalan.
“Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” (Ibr 7:3)
Hari ini, banyak umat Tuhan yang mengartikan Maria sebagai ‘ibu kudus’ Yesus, dan berdoa kepadanya. Itu sama sekali tidak benar, sebab ia bukanlah ibu dari Juruselamat kita, dan sudah seharusnya umat Tuhan berdoa kepada dan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, sebab Dia-lah penebus kita. Yesus-lah yang tergantung di kayu salib, bukan ‘ibu’-nya.
Kita adalah warga negara sorga
Melalui perkataan Yesus yang ketiga ini, kita juga dapat menyadari bahwa dalam iman, kita semua adalah saudara-keluarga Allah. Pertimbangkanlah Matius 12:48-50, sebuah kejadian ketika keluarga Yesus datang untuk melihat Dia. Ketika Yesus diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya sedang berdiri di luar, Ia berkata kepada kerumunan orang itu:
Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
Saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, itu artinya kini kita menjadi warga negara surgawi. Saudara akan mengasihi saudara-saudara dalam Kristus lebih dari anggota keluarga biologis Saudara sendiri. Keluarga biologis kita akan berakhir saat kematian menjemput, tapi keluarga surgawi akan abadi sampai kita bertemu kembali kelak di sorga. Itulah mengapa bagi kita sangatlah penting untuk kita mengasihi keluarga biologis kita dengan memberitakan Injil dan membawa mereka kepada Yesus Kristus, agar kita dapat kembali berkumpul bersama-sama mereka kembali di sorga kelak. Bertemu Yesus sang penebus kita, dan bertemu keluarga besar kita didalam Yesus Kristus, yaitu semua orang percaya dari seluruh dunia dan dari semua masa.

    4. ELOI, ELOI LAMA SABAKHTANI?

Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?,” yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:33-34)
Setelah enam jam tergantung di kayu salib, Yesus sangat kelelahan dan dalam situasi yang benar-benar kepayahan. Dan pada saat itulah Ia berseru, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” yang artinya “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Pada waktu di taman Getsemani, sebelum Tuhan Yesus disalibkan, Ia berdoa kepada Bapa agar jikalau mungkin “cawan ini lalu dari pada-Ku”, yang artinya, jikalau mungkin Tuhan Yesus tidak harus disalibkan. Sebab Tuhan Yesus tahu bahwa salib itu akan sangat menyakitkan. Dan benar saja, saat di kayu salib Tuhan Yesus akhirnya merasakan penderitaan yang sangat-sangat hebat. Tapi itu bukan yang terberat, beban terberat Yesus adalah pada saat semua dosa manusia ditanggungkan kepada-Nya. Bapa adalah Allah yang kudus, dan Allah tidak bisa bersatu dengan dosa, itu artinya Bapa meninggalkan Yesus yang kini menanggung dosa-dosa manusia.
Kini Yesus ditinggalkan oleh Allah Bapa, meskipun Ia adalah Anak-Nya yang tunggal. Allah benar-benar memalingkan wajah-Nya dari Yesus. Alkitab menunjukkan bahwa Yesus biasanya memanggil Allah, “Bapa-Ku”, tetapi saat ini, Yesus memanggil-Nya, “Allah-Ku”. Itu artinya Tuhan Yesus mengambil salib mewakili orang-orang berdosa dan orang berdosa tidak dapat memanggil Allah, “Bapa”.  Allah telah memperlakukan Yesus sebagai orang berdosa, dan mengizinkan Yesus menerima segala penghukuman akibat dosa, yaitu dosa semua umat manusia, dan Yesus mengerti itu, sehingga Ia tidak berani memanggil Allah, “Bapa”.

 

    5. AKU HAUS

Dalam PL, ada banyak nubuat tentang penderitaan Yesus di kayu salib, termasuk nubuatan yang menyatakan bahwa Ia akan mengalami kehausan sehingga kemudian meminum anggur asam:
“Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” (Mzm 69:22)
Nubuatan tersebut kemudian digenapi di Yoh 19:28-29, yang mencatat:
... “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Banyak orang dapat menahan lapar, tetapi tidak dengan menahan haus. Pada saat itu Yesus sangat haus, sebab Ia telah dipakukan pada salib selama enam jam dan mencurahkan darah di bawah terik matahari di padang gurun. Secara jasmani, Yesus haus. Ukuran kehausan-Nya melampaui yang dapat kita bayangkan.
Menurut kebiasaan orang Romawi untuk mengurangi rasa sakit, tentara Romawi kemudian memberikan anggur asam kepada terhukum salib. Anggur asam ini adalah anggur yang sudah berubah menjadi cuka. Hal tersebut terjadi pada saat kadar alkohol dalam anggur mulai mengurai anggur menjadi asam asetat atau cuka. Sebetulnya Tuhan Yesus tidak mau menerima anggur asam ini, sebab Ia memang harus menderita dan mengalami rasa sakit. Namun untuk menggenapi nubuatan, maka Tuhan Yesus menerima bunga karang yang dicelupkan ke dalam anggur asam dengan sebatang hisop.
Saat Tuhan Yesus memutuskan untuk meminum anggur asam, itu bukan karena Tuhan Yesus tidak dapat menahan rasa haus dan penderitaan-Nya, namun karena memiliki pengertian rohani didalamnya yaitu bahwa Yesus haus karena Ia telah men-curahkan darah-Nya. Ia mencurahkan darah-Nya untuk mengampuni dosa-dosa Saudara dan memberi Saudara hidup yang kekal.
Yesus berkata kepada Saudara, “Aku haus”, untuk menunjukkan kehendak Bapa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa terhilang, Untuk itu, anak-anak Allah yang telah dise-lamatkan oleh darah Yesus harus membayar harga untuk darah-Nya itu. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memuaskan dahaga-Nya atas keselamatan jiwa-jiwa dengan membawa mereka dari jalan yang menuju neraka kepada sorga, yaitu kepada pengenalan akan Yesus dan kebenaran-Nya.

    6. SUDAH SELESAI

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yoh 19:30)
Apa makna rohani perkataan Yesus, “sudah selesai!” ? Ini adalah perkataan Tuhan Yesus yang memberi tahu kita bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan manusia yang Ia laksanakan selama ribuan tahun akhirnya selesai! Melalui Yesus, yaitu Allah sendiri yang menjadi daging, datang ke dunia, memberitakan Injil, menyembuhkan orang-orang sakit, memberi makan yang lapar, membangkitkan orang mati, dan membuka jalan keselamatan dengan membawa salib bagi semua orang akhirnya selesai.
Ia menggenapi hukum Taurat dalam PL dengan kasih ketika mengorbankan diri-Nya sampai pada kematian-Nya. Sekalipun tidak mudah, Yesus akhirnya menyelesaikan semua rancangan ilahi bagi umat manusia. Ia menang atas Iblis, dan sepenuhnya menghancurkan pekerjaan Iblis. Oleh sebab itulah mengapa di kayu salib Yesus berkata, “sudah selesai!”
Seperti halnya Yesus menyelesaikan semua rencana Allah, Allah juga ingin kita anak-anak-Nya meneladani Yesus dengan menyelesaikan tujuan hidup kita seturut kehendak Allah. Kita harus memiliki hati Yesus yang mengasihi jiwa-jiwa dan peduli pada keselamatan mereka, setia pada pekerjaan yang Tuhan berikan, membawa sebanyak-banyaknya orang kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh, memberitakan Injil, dan melayani di gereja. 
Ia juga mengarapkan kita hidup seperti Yesus hidup, dipenuhi Roh Kudus, dan memiliki kesembilan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) dan memenuhi ucapan-ucapan Bahagia (Mat 5:3-10), sehingga masing-masing kita, anak Allah yang berharga, akan mengalahkan dunia dengan iman yang teguh sampai akhir hidup kita, sehingga pada waktu kematian mendekat kita dapat berkata, “sudah selesai!”

    7. YA BAPA, KE DALAM TANGAN-MU KUSERAHKAN NYAWA-KU

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Luk 23:46)
Manusia terdiri dari roh, jiwa dan tubuh jasmani (I Tes 5:23). Ketika manusia mati, roh dan jiwanya akan meninggalkan tubuh jasmaninya. Saat ditinggalkan roh dan jiwa, maka tubuh jasmani ini akan dikubur dan kembali menjadi debu tanah. Lalu kemana roh dan jiwa akan pergi? Ada dua tempat yang kemana roh dan jiwa akan pergi, yang pertama adalah kembali ke pangkuan Bapa di sorga jika ia adalah anak-anak Allah. Jika tidak, maka roh dan jiwanya akan pergi ke neraka (Luk 16:19-31).
Jika kita menang dalam mengakhiri garis akhir kehidupan kita, maka Allah akan menerima baik roh dan jiwa kita ketika mati. Oleh sebab itu Tuhan Yesus juga berkata  atau berdoa di akhir hidup-Nya, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Setelah menggenapi seluruh kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan ketaatan, Tuhan Yesus kemudian dengan bangga menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah.
Sebelum akhirnya dihukum mati, Rasul Paulus berkata:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (II Tim 4:7-8)
Stefanus juga hidup menurut kehendak Allah dan memelihara iman sekalipun harus menghadapi hukuman mati dengan cara dirajam karena imannya, ia berdoa:
“... Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 7:59)
Rasul Paulus dan Stefanus tidak dapat berdoa dengan cara demikian jika mereka hidup dalam cara-cara duniawi, dan hidup dalam dosa.
Begitu pula, kita dapat berkata dengan bangga, “Sudah selesai!” dan “Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku,” seperti cara Tuhan Yesus mati, jika kita hidup hanya seturut kehendak Allah Bapa.


APA YANG TERJADI SETELAH TUHAN YESUS MATI?
Tuhan Yesus kemudian mati di kayu salib. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Anak Domba Allah, maka pada pukul tiga sore, meskipun di siang hari, kegelapan melingkupi seluruh bumi. Kemudian ada dua kejadian penting setelah kematian Tuhan Yesus:

1. Tirai Bait Allah terbelah

Dan pada saat kematian Tuhan Yesus, tirai Bait Allah terbelah menjadi dua (Luk 23:44-45). Apa artinya ini? Sebelum tirai terbagi dua, imam tertinggi memberikan persembahan korban untuk pengampunan dosa dan menjadi perantara antara manusia dengan Allah. Setelah tirai ini terbelah tidak lagi diperlukan imam-imam untuk mempersembahkan korban penghapusan dosa, itu artinya kita manusia dapat memiliki hubungan secara langsung dengan Allah karena tembok dosa telah dihancurkan melalui kematian Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, siapa pun yang percaya dalam Yesus Kristus dapat masuk ke hadirat yang kudus dan menyembah Allah tanpa perantaraan imam tertinggi atau pun nabi.
“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” (Ibr 10:19-21)

2. Orang-orang kudus bangkit

Selain kegelapan melanda bumi, kemudian terjadi pula gempa bumi. Bumi berguncang, batu-batu terbelah, dan kuburan-kuburan orang kudus terbuka dan tubuh orang-orang kudus yang telah mati tersebut dibangkitkan. Ini adalah bukti kebangkitan semua orang yang hidup di masa PL yang percaya Allah yang dulu mati dan tinggal di Firdaus. Mereka telah menerima penebusan Tuhan Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib, dan kini mereka layak untuk masuk dalam kerajaan sorga untuk tinggal bersama-sama dengan Allah Bapa untuk selama-lamanya. Itu artinya juga bahwa jika kelak orang-orang di Perjanjian Baru yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan menerima-Nya sebagai dan Juruselamatnya maka saat mereka mati tidak akan masuk ke Firdaus lagi, melainkan ke dalam sorga.
Kelak ketika Tuhan Yesus datang untuk keduakalinya, mereka yang mati didalam Yesus akan dibangkitkan. kubur-kubur terbelah, dan mereka yang masih hidup, dalam sekejap mata akan diubahkan dan mengalami pengangkatan (rapture) untuk pergi ke sorga.
Melalui ketujuh perkataan Tuhan Yesus ini, saya berharap Saudara memahami makna-makna rohaninya sehingga Saudara dapat memiliki hidup kekeristenan yang berkemenangan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Sumber:
- Jaerock Lee, Rev. Dr.; “Pesan Salib”, Rahasia Penyelamatan dari Murka Allah pada Akhir zaman (2002); ANDI.

 

23 Menit Di Neraka


“Maka asap api yang menyikasa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa..”
Saya adalah Bill Wiese. Saya adalah seorang Kristen lahir baru sejak tahun 1970, serta bekerja di bidang properti, broker real estate, dan pelayan Tuhan di sebuah gereja. Pada tahun 1997 saya menikahi istri saya yang cantik, Annette. Dia menikmati karier saya sehingga akhirnya ia membantu saya menjual properti dan melayani bersama di gereja.
Saya adalah seorang Kristen seperti kebanyakan orang Kristen di Amerika Serikat (AS). Pergi ke gereja, melayani di gereja, mempelajari Alkitab, dan sebagai pendoa syafaat di gereja. Hidup kami sungguh indah, hidup berkecukupan, karier yang menanjak dan sekaligus dapat melayani Tuhan.


TIBA-TIBA BERADA DI NERAKA

Hari Minggu, 22 November 1998, saya dan istri saya menghabiskan waktu sore hari di rumah teman dekat kami. Setelah itu kami pulang ke rumah kira-kira pukul 11.00, dan kami tidur sebelum tengah malam. Tidak ada sesuatu yang berbeda malam itu, padahal kami tidak menyadari bahwa malam itu hidup kami akan berubah selamanya, dan tidak akan pernah saya lupakan.
Sewaktu saya tidur, tepatnya sekitar pukul 03:00 dini hari, atau Senin, 23 November 1998 pagi buta, tanpa peringatan apapun saya terlempar ke udara dan jatuh ke tanah, bukan lantai rumah saya, tapi tanah dengan tembok tebal disekelilingnya dan terdapat pintu terbuat dari logam lengkap dengan palangnya1, persis seperti sebuah sel penjara2, ukurannya mungkin sekitar 3 x 4,5 m. Ini bukan mimpi buruk, sebab saya terbangun dan sadar, dan saya menemukan bahwa diri saya telanjang sama sekali3. Yang pertama kali saya rasakan bukanlah rasa sakit karena terjatuh, tapi suhu! Sebab suhu ruangan tersebut sangat-sangat panas4, jauh melampaui setiap kemungkinan yang ada dalam kehidupan. Kemudian saya mendengar disekeliling saya terdengar suara jeritan-jeritan yang bising5, bau tengik dan bau busuk yang menyengat, dan kegelapan6.
Ini sangat mengerikan. Entah bagai-mana saya melihatnya dikegelapan, saya melihat di ruangan ternyata ada dua makhluk buas, jelek, besar (tingginya sekitar 3-4 m), kuat, dan sepenuhnya jahat7. Dari tatapan matanya saya mengetahui mereka sangat membenci manusia. Giginya dan kukunya besar dan tajam dengan tubuhnya yang dipenuhi sirip-sirip tajam. Kemudian mereka menatap saya dengan bengis, dan mulai saling berkata-kata dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Setelah selesai berbicara salah satu dari mereka mendekati saya dan mengangkat saya kemudian membanting tubuh saya ke dinding... bruk... sakit sekali rasanya. Namun demikian, makhluk ini tidak menghargai sama sekali tubuh manusia, yang diciptakan segambar dengan Allah. Belum juga yang satu puas menyiksa saya, maka datang yang satu lagi. Kukunya tajam seperti pisau, dan mengangkat saya dan menekan saya kedadanya. Maka sirip-sirip dan kukunya yang tajam mulai merobek-robek tubuh saya. Daging saya tercabik-cabik dan tergantung dari tubuh saya .
Saya adalah seorang Kristen, saya belajar Alkitab, dan saya yakin itu adalah neraka. Ya!, saya sedang berada di neraka. Tapi bagaimana ini bisa terjadi saya tidak tahu, bukankah saya orang baik. Sebab setahu saya neraka adalah tempat untuk orang-orang jahat dan mereka yang tidak percaya Yesus. Bagaimana saya sebagai seorang Kristen bisa berada di neraka saya tidak tahu, tapi saya yakin ini adalah neraka. Dan kedua makhluk tersebut pasti setan-setan yang hendak menyiksa manusia yang terhilang.
Saya memohon belas kasihan, tapi setan-setan tersebut tidak memiliki belas kasihan. Mereka benar-benar jahat. Semakin saya memohon belas kasihan, itu hanya menambah keinginan mereka untuk menyiksa lebih lagi. Mereka membenci Allah dan segala ciptaan-Nya, termasuk manusia. Seberapa pun usaha manusia untuk merawat tubuhnya, mungkin di dunia para wanita merawat tubuhnya agar indah, dan para pria berorahraga dan makan makanan yang bergizi agar tubuhnya berotot, namun di neraka setan-setan akan menghancurkannya tanpa belas kasihan sedikit pun8. Oh, betapa saya menginginkan kematian, tapi kematian tidak ada di sana. Jadi satu-satunya cara yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya saya keluar dari ruangan tersebut. Sekalipun sangat gelap, tapi saya ingat arah dari pintu dan saya merangkak ke sana. Dan anehnya setan-setan itu membiarkan saya merangkak menuju pintu.
Segera setelah saya mencapai pintu yang tidak tertutup itu, saya mencoba sekuat tenaga untuk berlari keluar... Setelah berada di luar ruangan itu... Keadaannya tidak lebih baik. Saya mendengar suara jeritan dari orang banyak yang menangis dan menjerit dalam penyiksaan benar-benar menulikan telingga saya. Saat saya melihat ke sebelah kanan, saya dapat melihat sedikit lidah api dari kejauhan yang suram menerangi kaki langit. Itu adalah sebuah lubang neraka yang besar, kira-kira 1,6 km diameternya dan 16 km jauhnya.


1.             Yunus 2:6, “Di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya...”
2.             Yesaya 24:22, “Mereka akan dikumpulkan bersama-sama, seperti tahanan dimasukkan dalam liang; mereka akan dimasukkan dalam penjara dan akan dihukum sesudah waktu yang lama.”
3.             Wahyu 17:16, “...Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.”
                Menelanjangi seseorang didepan umum merupakan cara untuk mempermalukan dan melucuti apapun yang mungkin dimiliki sehingga mudah untuk diserang. Jika kita ingat pada saat Perang Dunia II, bagaimana jutaan orang Yahudi ditelanjangi dan dipermalukan didepan umum sebelum akhirnya mereka dibunuh dengan berbagai cara eksekusi yang mengerikan. 
4.             Ulangan 32:22, “Sebab api telah dinyalakan oleh murka-Ku, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung.”
5.             Matius 13:50, “Lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”
6.             Matius 8:12, “Sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
7.             Markus 5:2-4, “Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.”
8.             I Timotius 4:8, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”
9.             Wahyu 14:11, “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.”
10.          Mazmur 94:13, “untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.”
11.          Wahyu 1:16-17, “16  Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.”
12.          Ayub 33:28;30, “Ia telah membebaskan nyawaku dari jalan ke liang kubur, dan hidupku akan melihat terang ... mengembalikan nyawanya dari liang kubur, sehingga ia diterangi oleh cahaya hidup.”


Udara dipenuhi dengan asap, dan bau busuk kotor penuh kematian memenuhi udara9, bahkan untuk bernafas saja rasanya udara di neraka bisa membunuh, sebab bau busuknya mungkin 1.000 kali bau busuk yang paling busuk di dunia ini. Dan saya merasakan bahwa di neraka tidak ada kelembaban sama sekali, semuanya kering dan tandus. Tidak ada air untuk diminum, padahal saya benar-benar sangat haus. Mulut saya begitu kering. Sampai-sampai saya teringat kisah Alkitab tentang orang kaya yang di dalam neraka yang meminta setetes air kepada Lazarus untuk menghilangkan dahaganya (Luk 16:24), itulah yang terjadi pada saya. 
Keputusasaan mulai membanjiri pikiran saya. Kehidupan yang indah yang pernah saya nikmati sekarang hilang. Yang ada hanya dukacita, tidak ada teman, tidak ada pertolongan, kesepian, dan tidak ada kehidupan. Kehidupan telah berlalu, dan hal-hal tidak berguna dan “sia-sia” memenuhi seluruh keberadaan saya. Saya merindukan istri saya dan kehidupan saya. Kini hanya ada ketakutan. Ya, ketakutan dan kengerian yang abadi. Kengerian terhadap siksaan-siksaan yang akan saya alami untuk selama-lamanya. Dan benar saja, belum juga saya berjalan jauh, salah satu setan tadi merenggut dan membawa saya kembali ke penjara. Ia kemudian melemparkan saya ke lantai, dan... setan yang lain yang telah menunggu saya langsung merenggut saya dan mulai menyiksa saya kembali...

LUBANG
Rasa putus asa melingkupi saya waktu itu, sepertinya saya akan mengalami kengerian ini untuk selamanya. Namun tiba-tiba saya berpindah tempat dengan sangat cepat. Lega rasanya, saya bisa lepas dari cengkraman kedua makhluk jelek dan bau tadi, yang sangat haus untuk menyiksa saya. Kini saya menemukan diri saya berada di sebelah lubang besar dengan nyala api yang besar yang naik ke lubang besar yang terbuka. Panasnya... saya kira ini adalah panas yang sangat-sangat panas yang kadar kepanasan-nya berlipat-lipat kali dari panas yang ada di dunia.
Tidak dapat dibayangkan, saya melihat begitu banyak orang berada tepat di tengah-tengah api yang panas tersebut. Saya dapat melihat bentuk orang-orang yang terbakar tanpa belas kasihan tersebut. Jiwa-jiwa mereka menjerit, dan ini merupakan pemandangan yang sangat memilukan. Tidak ada orang yang terluput dari api, tidak ada tempat yang aman, bahkan untuk beristirahat sedetik saja dari jilatan api yang sangat panas itu. Rasanya saya tidak tahan menyaksikan orang-orang berada dalam ketakutan, keputusasaan, tak berpengharapan, dan penyiksaan tiada akhir itu, tapi pada saat yang sama, saya menyadari bahwa saya mungkin orang yang berikutnya. Saya sangat takut.
Di media, kita pernah menyaksikan tindakan kejam dari para teroris. Mereka sangat kejam terhadap tawanan. Dalam beberapa kasus, para tawanan mengetahui ajal mereka akan tiba melalui pemenggalan kepala yang kejam. Coba bayangkan ketakutan yang para korban rasakan ketika mereka menantikan nasib mereka. Di neraka ketakutan seperti itu tidak akan pernah berhenti bahkan untuk satu detikpun. Ini adalah pengalaman yang paling menakutkan dalam hidup saya. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan saya.
Saya tidak tahu telah berapa lama saya berada di neraka, namun saya merasakan telah mengalami kesengsaraan hebat karena kelelahan yang luar biasa di neraka. Trauma emosional, mental, dan fisik yang terus menerus terjadi tanpa adanya istirahat. Tidak ada tempat yang damai dalam pikiran. Tidak ada kata istirahat dari penderitaan, jeritan, ketakutan, kehausan, kekurangan nafas, bau busuk, tidak tidur, kepanasan, keputusasaan, dan pengasingan dari manusia.
Sifat dasar manusia adalah selalu ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, terutama orang-orang terkasih. Saat seseorang sedih, sakit, atau menghadapi kematian, orang selalu ingin dikelilingi oleh orang-orang terdekat untuk dikuatkan. Tapi di neraka, Anda benar-benar sendirian. Anda dipisahkan dari segala jenis persahabatan, percakapan, atau interaksi manusia. Saat seseorang mengetahui tidak akan pernah dapat berhubungan dengan siapapun lagi, sangat sulit untuk kita bisa berpikir lagi. Anda akan benar-benar sendirian di tengah-tengah lautan jiwa yang tersiksa.
Memang ada tempat-tempat di neraka dimana orang-orang berada bersama-sama, mereka tidak sendirian. Tapi mereka hanya bersama-sama dalam hal bahwa mereka mengalami penyiksaan yang sama. Setiap orang terisolasi dalam kesakitan yang luar biasa. Tidak terpikirkan oleh mereka untuk bercakap-cakap, mereka semua hanya sedang berusaha untuk menahan rasa sakit dari api, hujan belerang, lahar panas, bara api, ulat-ulat yang menggerogoti daging, dan trauma kengerian yang melanda mental mereka. Orang-orang yang berada di neraka berada diambang kegilaan, namun tidak pernah gila. Tidak ada jalan keluar dan tidak ada kata akhir, yang ada bahwa mereka akan berada di sana untuk selama-lamanya.


MAKHLUK-MAKHLUK NERAKA
Setelah saya terlempar dari ruang tahanan ke dekat lubang berapi yang besar, kelihatannya tidak ada kedua setan yang mengancam saya lagi, jadi ini memberi saya waktu sejenak untuk memahami suasana di sekeliling saya. Ternyata saya berada di tengah-tengah gua. Tembok gua itu sangat luas, dan karena asap yang keluar dari lubang itu sangat tebal dan juga bau busuk, membuat jarak pandang sangat pendek, namun saya dapat melihat dalam samar-samar bahwa seluruh dinding gua ini ditutupi oleh ribuan makhluk jahat dengan berbagai ukuran dan bentuk-bentuk yang mengerikan.
Mereka sangat jelek dan aneh, bentuk tubuhnya banyak yang tidak simetris atau proporsional. Namun mereka memiliki kesamaan yaitu mereka sangat jahat, tatapannya bengis, menjijikan, berbau busuk, kotor, buruk, dan terbelenggu (Lih. Yudas 1:6). Sehingga baru kali ini saya merasa lega ketika mengetahui mereka tidak dapat menjangkau saya.
Selagi saya memperhatikan makhluk-makhluk tersebut dengan takutnya, tiba-tiba saya terangkat secara perlahan-lahan. Tidak ada yang mengangkat saya, tapi saya terangkat seperti terbang. Dan setelah mencapai ketinggian yang cukup saya dapat melihat padang gurun neraka yang sangat besar. Sekarang saya lebih dapat melihat lubang yang besar itu. Yang terlihat ternyata jauh lebih besar dari dugaan awal saya, ukuran lubang itu kira-kira 56 km. Tapi itu hanya bagian kecil dari ukuran neraka. Lalu saya melihat ada ribuan lubang kecil di sisi kanan lubang yang besar itu. Setiap lubang tidak lebih dari 1-1,5 m lebarnya dan 1,2-1,5 dalamnya, dimana masing-masing lubang menampung satu orang10. Mengerikan sekali.


YESUS DATANG MENJEMPUT SAYA
Saya terus terangkat, sampai tiba-tiba, semburan cahaya menyerbu seluruh terowongan. Cahaya itu sangat terang, murni, dan putih seperti yang belum pernah saya lihat, dan seseorang berada di tengah-tengah cahaya tersebut. Namun karena cahaya itu sangat terang sehingga saya tidak dapat melihat wajah orang yang berada di hadapan saya itu, tapi saya dengan segara tahu siapa Dia, “Yesus”, dan Ia berkata, “AKU”, dan saya jatuh di kaki-Nya. Seolah-olah saya sudah mati11.
Awalnya saya sudah pasrah menerima kenyataan bahwa saya mati dan masuk neraka. Saya berada di perut neraka, seperti  seseorang yang tidak mengenal Yesus, dikutuk, dibuang ke penyiksaan kekal. Namun tiba-tiba Ia muncul12 sehingga memulihkan kesadaran saya bahwa saya adalah orang Kristen. Setelah Tuhan Yesus mendatangiku, kedamaian menggantikan ketakutanku. Perasaan tak berharga, malu, terhina, takut, dan kengerian lenyap seketika itu juga. Saya hanya ingin tetap berada di kaki-Nya. Saya bersyukur telah keluar dari neraka. Saya sangat bersyukur karena saya mengenal Yesus, dan bahwa saya adalah orang percaya. Saya hanya ingin menyembah Dia. Sebagai orang yang telah mengalami neraka dan diselamatkan, saya tidak memiliki kata-kata yang cukup untuk menyatakan rasa syukur saya, dan saya hanya ingin terus-menerus berterima kasih kepada Dia. Pengetahuan tentang neraka yang nyata dan bagaimana menakutkannya hal itu telah membuat saya (dan seharusnya Anda juga) lebih lagi menghargai dan mensyukuri keselamatan yang Yesus berikan kepada kita umat-Nya.
Tuhan Yesus meraih dan menyentuh bahu saya. Kekuatan saya dengan segera kembali. Lalu saya berdiri, dan berikutnya tentu saya ingin segera bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, mengapa Engkau mengirim aku ke tempat yang mengrikan ini?”
Sebelum saya menanyakan pertanyaan itu, Ia menjawab, “karena banyak orang tidak percaya bahwa neraka benar-benar ada,” Ia kemudian melanjutkan, “bahkan beberapa dari umat-Ku tidak percaya bahwa neraka itu nyata.” Saya sangat heran mendengar bahwa ada orang Kristen yang tidak percaya bahwa neraka itu nyata. Padahal Alkitab mem-beritahukan kepada kita dengan begitu jelas mengenai neraka.
Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada saya, “Pergi dan beritahukanlah kepada mereka mengenai tempat ini. Neraka bukanlah tempat yang Aku inginkan untuk seseorang berada di dalamnya. Neraka dibuat untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.”
Kemudian saya menjawab-Nya, “Ya tentu saja, aku akan pergi.” Saya merasa terhormat dapat melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan Dia. Namun saya memiliki satu keraguan dan bertanya kepada-Nya, “Tuhan, bagaimana mereka akan mempercayai saya? Bagaimana jika mereka berpikir bahwa saya hanya mengalami mimpi buruk, atau gila.”
Tuhan berkata kepada saya, “Bukanlah pekerjaanmu untuk meyakinkan hati mereka. Tanggung jawab itu milik Roh Kudus. Bagianmu adalah pergi dan mengatakanya kepada mereka.”
Saya merasa lega dengan mengetahui bahwa bukan tanggung jawab saya untuk meyakinkan orang. Kemudian percakapan kami lanjutkan. Sebab banyak hal yang mengganggu saya, seperti pertanyaan berikut ini yang saya tanyakan kepada-Nya. “Tuhan, mengapa setan-setan itu begitu membenci saya?”
Ia berkata, “Karena engkau diciptakan segambar dengan-Ku, dan mereka membenci Aku.”
Saya kemudian bertanya lagi, “Tuhan tapi setan-setan itu sangat kuat?”
Kemudian Tuhan Yesus berkata, “Yang harus engkau lakukan adalah mengusir mereka dengan nama-Ku.”
Kemudian Tuhan memandang ke arah neraka, dan saya juga melihat kembali tempat yang menakutkan itu. Sementara Tuhan Yesus dan saya melihat pemandangan yang mengerikan di neraka, dan jiwa-jiwa yang dilempar ke dalamnya, Tuhan Yesus mengijinkan saya merasakan sebagian kecil penderitaan yang Ia rasakan terhadap ciptaan-Nya yang sedang menuju ke neraka. Kasih-Nya jauh melampaui kapasitas kita dan tidak terhingga, jauh lebih besar dari kasih kita. Saya bahkan tidak dapat merasakan sebagian dari kesedihan yang Ia rasakan. Saya kemudian berkata, “Tolong hentikan!” Saya tidak dapat menanggungnya.
Tidak ada cara untuk mengukur betapa Ia mengasihi semua orang. Ketika jiwa seseorang terhilang dan dilemparkan ke dalam neraka, hal itu sangat menyedihkan hati-Nya.
Akhirnya Ia berkata, “Katakan kepada mereka, Aku akan segera datang.” Dalam roh, saya merasakan sebuah perasaan mendesak untuk memperingatkan sebanyak mungkin orang, karena waktu terus berjalan. Kemudian Ia dengan keras mengatakannya lagi: “KATAKAN KEPADA MEREKA AKU AKAN SEGARA DATANG!” Pengulangan yang Ia lakukan membuat saya yakin bahwa kedatangan-Nya memang sudah sangat dekat. Waktu terus berjalan...


KEMBALI KE RUMAH
Ketika Tuhan dan saya melewati waktu bersama-sama, kami terus menaiki terowongan. Kemudian kami tiba di permukaan bumi. Lalu saya dibawa lebih tinggi lagi dari permukaan bumi ke angkasa, sehingga saya dapat melihat lekukan bumi dan kota-kota di bawah. Sungguh indah. Kemudian dengan cepat kami terbang ke California dan dengan cepat melayang menuju rumah saya. Roh saya kemudian menembus masuk melalui atap rumah dan saya dapat melihat tubuh saya yang ternyata terlempar hingga ke ruang tamu, tergeletak di lantai dan terlihat begitu fana. Dan saat itu pula kemudian roh saya tertarik kembali menuju tubuh saya. Itu adalah saat dimana Tuhan pergi. Saya terbangun, dan dengan segera ketakutan akan neraka kembali dalam pikiran saya.
Saya mulai menjerit, dilantai, dalam keadaan trauma. Teriakan saya cukup keras sehingga cukup kencang untuk mencapai kamar tidur kami dan membangunkan istri saya, Annette, yang sedang tidur nyenyak. Istri saya berkata bahwa ia terbangun karena teriakan saya yang terdengar dari lorong. Reaksi pertama Annette saat terbangun adalah mencari saya dan melihat ke arah jam, dan jam saat menunjukkan pukul 03.23 pagi. Itu artinya saya perjalanan saya di neraka memakan waktu 23 menit. Sebab dengan jelas saya mengetahui bahwa pada saat saya terlempar waktu menunjukkan pukul 03.00.
Saat saya melihat Annette datang, saya berteriak-teriak kepadanya, “Tuhan mem-bawa saya ke neraka, doakan saya! Doakan agar Tuhan mengambil ketakutan itu dari pikiran saya!” Saya adalah orang yang tenang, saya tidak pernah berteriak atau gelisah, setiap orang yang menggenal saya tahu itu. Tapi malam itu, saya benar-benar kehilangan kendali. Kemudian Annette mulai berdoa bagi saya, sehingga saya mulai tenang, meminta kepadanya segelas air minum, kembali ke tempat tidur dan mulai menceritakan apa yang terjadi pada Annette.

KETAKUTAN DAN TRAUMA
Saudara mungkin pernah mendengar tentang trauma seseorang yang pulang dari perang dan melihat begitu banyak kematian, atau mereka yang baru saja mengalami kecelakaan, dipenjara, atau mengalami tindak kekerasan. Mereka akan mengalami trauma yang mendalam. Tidak bisa tidur, terbangun ditengah malam, atau mengalami paranoid. Itu baru kejadian di dunia, tapi yang saya alami adalah pengalaman neraka yang jauh melebihi itu semua. Bahkan jika Tuhan tidak mengambil ketakutan dari ingatan tersebut, mungkin saya akan mati karena ketakutan itu. Mengalami dan melihat apa yang terjadi di neraka adalah pengalaman yang paling menakutkan dalam hidup saya.

PENEGUHAN
Saya sudah mengikuti kelas pema-haman Alkitab, dan menjadi Kristen selama 28 tahun, tapi saya tidak pernah memperhati-kan ayat-ayat yang berbicara tentang neraka. Tapi setelah pengalaman saya ke neraka dan mempelajari Alkitab kembali, saya terkejut karena saya menemukan setidaknya ada 300 ayat di Alkitab yang merujuk tentang neraka yang sama persis seperti apa yang saya lihat dan alami. Oh, saya harus memperingatkan orang-orang tentang hal ini.
Kini, saya dan Annette berkomitmen untuk mulai melakukan perjalanan penginjilan sambil mencerikan bahwa neraka itu nyata dan bagaimana mengerikannya tempat itu. Kami mulai pelayanan kami di kelas pemahaman Alkitab di gereja kami. Sekalipun saya bukan tipe orang yang senang dengan pelayanan mimbar dan memegang mic. Namun kini saya mulai berkhotbah ke gereja-gereja dan ke kota-kota lain.
Banyak orang memang menolak saya, tapi saya tidak peduli dengan penolakan tersebut. Namun saya senang ternyata tidak sedikit juga yang percaya setelah mendengar khotbah saya, bahkan beberapa dari mereka ternyata ada juga yang mendapatkan pengalaman, mimpi, dan penglihatan tentang neraka, namun mereka ragu untuk menceritakannya karena mereka takut dianggap sedang berimajinasi. Sehingga orang-orang tersebut merasa diteguhkan dengan cerita-cerita saya tentang neraka. Sekalipun bagi saya cerita mereka juga tentunya merupakan peneguhan bagi saya, sehingga saya lebih yakin lagi dengan apa yang saya ceritakan. Saya ternyata tidak sendirian.
Pelayanan kami akhirnya terus berkembang, dari mulai hanya berkhotbah di kelas-kelas pemahaman Alkitab, khotbah di gereja-gereja, menjawab email yang masuk, menjawab telepon mereka yang ingin bertanya tentang neraka, kemudian kami melangkah untuk membuat kaset dan CD rekaman khotbah, kemudian mulai pelayanan radio dan televisi, hingga akhirnya menulis buku.
Karena pelayanan kami semakin padat, akhirnya pada tahun 2007 kami mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan kami yang nyaman sebagai penjual properti yang sukses menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu (full time). Ini adalah proses transisi yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kami, tapi kami tahu bahwa kami dipilih dan dipanggil untuk melakukannya. Saya tidak ingin seorang pun pergi ke neraka di mana saya pernah berada. Saya terbangun setiap pagi dengan berpikir saya harus mem-peringatkan orang-orang, dan saya pergi tidur setiap malam dengan berpikir siapa yang saya lewatkan hari ini. Setiap hari saya berpikir bagaimana harus menemukan cara untuk menceritakan kepada mereka tentang neraka dan Yesus sebagai satu-satunya cara untuk kita terhindar dari tempat yang mengerikan itu.


BAGAIMANA KITA TERHINDAR DARI NERAKA
Kini kita sudah tahu betapa mengeri-kannya berada di neraka, apa lagi untuk waktu yang tak terhingga. Saya merasa ngeri dengan pemikiran mengenai seseorang yang menghabiskan kekekalan di neraka. Tolong jangan anggap enteng neraka. Ini adalah mengenai kekekalan Anda. Kita harus menghindari tempat itu. Lalu bagaimana supaya kita terhindar dari tempat yang mengerikan itu:

1.Yesus adalah satu-satunya jalan untuk terhindar dari neraka

Sebenarnya neraka diciptakan untuk Iblis dan setan-setan. Namun sayang, Iblis berhasil membujuk manusia untuk berbuat dosa. Akibatnya manusia tidak layak lagi untuk tinggal bersama-sama dengan Allah di sorga kelak, melainkan akan tinggal di neraka bersama-sama dengan Iblis dan setan-setan.
Iblis dan setan-setan membenci Anda dan saya. Itu karena mereka membenci Allah. Sebetulnya mereka ingin menyentuh Allah secara langsung, namun karena mereka tidak bisa, maka mereka melukai ciptaan-Nya, yaitu umat manusia. Iblis mulai membuat manusia berdosa, membuatnya sakit, dan kemudian mati untuk menarik manusia ke dalam neraka. Hati Allah sangat sedih ketika melihat ciptaan-Nya menderita. Allah mengasihi kita dan menginginkan kita hidup sehat, damai, panjang umur, dan jikalau mati akan kembali kepada-Nya di sorga.
Untuk itu kemudian Allah menjelma menjadi manusia didalam Yesus Kristus. Ia memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan yang mati, memberitakan kabar Injil keselamatan, termasuk memberitahu manusia tentang kengerian neraka. Kemudian Tuhan Yesus mati di kayu salib dan darahnya tercurah untuk menghapuskan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada-Nya. Di kayu salib Tuhan Yesus menderita dan dipermalukan untuk menanggung penderitaan yang seharusnya kita terima di neraka. Kematian-Nya menyelamatkan Saudara dan saya dari penghukuman akibat dosa di neraka. 
Kini manusia hanya tinggal percaya kepada Tuhan Yesus Kristus agar dosa-dosanya diampuni, diselamatkan, dan kelak terhindar dari penghukuman kekal di neraka.
Jika Anda mau menerima keselamatan dan anegerah Allah tersebut, berdoalah seperti ini:
“Bapa yang baik, saya mengakui bahwa saya adalah orang yang berdosa. Terima kasih karena Yesus telah mengambil hukuman saya dan menggantikan dengan diri-Nya ketika Ia mati di kayu salib bagi dosa-dosa saya, dan kemudian bangkit kembali dari kematian mengalahkan maut. Hari ini saya bertobat dan menaruh kepercayaan saya di dalam Yesus Kristus bagi keselamatan saya. Dalam nama Yesus saya berdoa. Amin.”

2. Selesaikan dosa, sekecil apapun.

Jika Anda orang percaya, tolong jangan anggap enteng dosa, sekecil apapun. Ini bukan pesan yang menghakimi, tetapi pesan yang memperingatkan. Allah adalah kudus, sorga adalah kudus, dan mereka yang tinggal di sorga adalah orang-orang kudus, sehingga jika kita mau ke sorga kita harus kudus. Kenajisan dan dosa tempatnya di neraka.
Kekudusan kita dapatkan melalui darah Yesus. Saat kita mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka Tuhan Yesus akan menguduskan kita. Darah-Nya akan menyucikan semua dosa-dosa kita. Kemudian apa? Kemudian kita harus menjaga kekudusan itu hingga kelak kita mati atau Tuhan Yesus menjemput kita Gereja-Nya.
“Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengam-punan dosa.” (Kolose 1:12-14)
Menjaga kekudusan artinya menjaga kehidupan kita dari dosa dan pelanggaran, bahkan terhadap dosa dan pelanggaran yang sering dianggap sepele.


NERAKA ITU NYATA
Pengalaman neraka bukanlah sesuatu yang saya minta atau hal yang pernah saya inginkan. Menjadi seseorang yang kolot, atau berhubungan dengan sesuatu yang kelihatannya radikal dan melawan arus tidaklah membuat saya nyaman. Tetapi, saya belajar untuk terus mengabaikan ketidak- nyamanan saya tersebut demi jiwa-jiwa yang akan terhilang selama-lamanya.
Perjalanan saya yang menakutkan itu seperti berlangsung selamanya, tetapi sebenarnya hanya berlangsung tidak lebih dari setengah jam. Tapi perjalanan yang singkat itu saja sudah cukup untuk meyakinkan saya untuk tidak akan pernah kembali ke sana, bahkan untuk satu menit pun, apa lagi untuk waktu yang kekal setelah kematian yang akan datang. Saya sedang tidak menakut-nakuti orang-orang atau umat Kristen yang sedang bertumbuh, tapi saya sedang memperingatkan akan adanya bahaya. Itulah tujuan saya mengatakan kepada semua orang apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami sehingga siapapun yang membaca kisah ini dapat mengambil langkah yang tepat yang menentukan dimana kita akan berada dalam kekekalan. Tuhan Yesus memberkati. (Vs.)

Pustaka: